Habib Rizieq

Habib Rizieq

Sabtu, 30 Mei 2015

KOMENTAR LIBERAL



KOMENTAR LIBERAL


Bismillaah wal Hamdulillaah ...
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ...

Melalui forum ini, telah dipaparkan sejumlah Berita dan Artikel tentang Baca Al-Qur'an dengan Langgam Jawa, antara lain :
1. Tgl 17 Mei : Racauan Liberal : Baca Al-Qur'an Dengan Langgam Dalang >>https://goo.gl/FLlcRw
2. Tgl 18 Mei : Nasihat Terbuka buat Presiden dan Menag RI : Taubat atau Lengser !!! >> https://goo.gl/CjlLSE
3. Tgl 19 : Ulama Mesir membolehkan Pembacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa ??? >> https://goo.gl/GCLjTV
4. Tgl 20 Mei : Islam Nusantara. >>https://goo.gl/6MDBcw
5. Tgl 21 Mei : Antara Tidak Bisa dan Istihzaa. >> https://goo.gl/CWtVXt
6. Tgl 22 Mei : Khilafiyah, Inhiraaf dan Fitnah. >> https://goo.gl/SNBqmb
Nah, kali ini akan dimuat aneka komentar dari sejumlah TOKOH NASIONAL dengan "Aroma Liberal" atau komentar yang "Memberi Angin" kepada Liberal untuk semakin leluasa melakukan "Propaganda".
Tentu dilengkapi dengan "Komentar Singkat" Imam Besar FPI, Hb.Muhammad Rizieq Syihab, sebagai tanggapan untuk tiap "Komentar Liberal" tersebut, agar supaya umat Islam tidak terperangkap dengan jebakan Propaganda Liberal :
1. MENTERI AGAMA RI : LUKMAN H SAIFUDDIN.
“Kenapa langgam Jawa yang ditampilkan? Karena saya belum menemukan langgam daerah lain yang tajwidnya baik. Bila ada, tolong kirim rekamannya.”
(Sumber: Akun Twitter @lukmansaifuddin, 17 Mei 2015)
Habib Rizieq : "Ini bukti bahwa Menag RI merasa benar dengan ide "Langgam Jawa"-nya, apalagi setelah dibela sejumlah "Tokoh Nasional", dia tidak menyesal bahkan bangga dan minta dikirimi pula rekaman "Langgam Daerah" lainnya.
Ironis, Menteri Agama yang berasal dari "Partai Islam" bukan menyatukan umat Islam, bahkan menciptakan FITNAH yang memecah belah umat Islam.
Innaa Lillaahi wa Innaa ilaihi Rooji'uun ... "
2. MANTAN MENAG RI : QURAISY SHIHAB.
"KONON beliau bersabda: Bacalah al-Quran dengan langgam Arab dan suara (cara pengucapan) mereka; jangan sekali-kali membacanya dengan langgam orang-orang fasiq dan dukun-dukun. Nanti akan datang orang-orang yang membacanya dengan mengulang-ulangnya seperti pengulangan para penyanyi dan para pendeta atau seperti tangisan orang yang dibayar untuk menangisi seorang yang meninggal dunia."
Hadits tersebut kalau pun dinilai shahih, maka itu bukan berarti bahwa langgam selain langgam Arab beliau larang. Bukankah beliau menganjurkan untuk membaca dengan baik dan indah, apalagi sementara pakar hadits menilai riwayat yang diriwayatkan oleh an-Nasaiy al-Baihaqy dan at-Thabarani di atas lemah karena dalam rangkaian perawinya terdapat Baqiyah bin al-Walid yang dikenal lemah dalam riwayat-riwayatnya. Demikian, wa Allah A'lam."
Habib Rizieq : "Quraisy Shihab MEMBENARKAN Baca Al-Qur'an dengan langgam selain Arab sambil MENDHOIFKAN Hadits Larangan membaca Al-Qur'an dengan Langgam selain Arab.
Namun beliau lupa atau pura-pura lupa, bahwa Allah SWT yang memerintahkan baca Al-Qur'an dengan TARTIL, dan Tartil itu adalah memberi HAK BACAAN dengan benar, baik terkait bunyi huruf dan makhrojnya, serta Qiraa-atnya yang Mu'tabaroh, mau pun cara bacanya dengan Langgam yang semestinya.
Jangankan dengan Langgam Jawa atau daerah lainnya, dengan Langgam Arab saja, jika TIDAK LAZIM dan TIDAK MU'TABAR tetap tidak boleh, seperti dengan Irama Gambus atau Qoshidah, apalagi Irama Tari Perut, karena bisa menimbulkan FITNAH, bahkan bisa membuka PINTU PELECEHAN terhadap Al-Qur'an.
Selain itu, Rasulullullah SAW dalam sejumlah HADITS SHAHIH bukan Hadits Dho'if, memerintahkan baca Al-Qur'an dengan cara yang MENYATUKAN bukan dengan cara yang MEMECAH BELAH dan beliau SAW juga melarang membaca Al-Qur'an dengan cara yang berlebihan alias LEBAY.
Silakan buka Shahih Al-Bukhari hadits ke-4.773, 4.774, 6.930 dan 6.931, lalu Sunan An-Nasa-i hadits ke-8.097, 8.098 dan 8.099, begitu juga Musnad Ahmad hadits ke-15.909, 15.911, 15.734, 15.740 dan 19.597.
Inilah satu lagi sikap KONTROVERSIAL Quraisy Shihab, setelah sebelumnya : Tidak mewajibkan Jilbab, Membolehkan ucapan Selamat Natal, Membolehkan kepemimpinan Kafir atas umat Islam dalam kasus Ahok, dan belakangan menyatakan Rasulullah SAW belum dapat jaminan masuk Surga. Kini, ikut-ikutan membolehkan Baca Al-Qur'an dengan Langgam Jawa.
Astaghfirullaahal 'Azhiim."
3. KETUA UMUM PBNU : SAID AGIL SIRADJ
"Boleh, asalkan tidak mengurangi tajwid dan makhrajul hurufnya,"
Dinyatakan di sela acara Halaqah Ulama di Hotel Acacia Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Selasa (19/5).
Habib Rizieq : "Tokoh yang satu ini memang SANGAT KONTROVERSIAL. Saat Umat Islam menolak Ahmadiyah, Konser Lady Gaga, Seminar Lesbi Irshad Manji, justru ia membelanya.
Inilah Tokoh NU yang menolak Perda Syariah, membolehkan dan mengamalkan ucapan Selamat Natal, menyebut Gubernur Kalbar yang Katholik dengan sebutan USTADZ, dan menyatakan ada NU Cabang Katholik.
Dan inilah orangnya yang sangat bernafsu untuk membubarkan FPI, dan menyatakan bahwa yang harus dibela adalah Tanah Air bukan Islam.
Dan ini pula orangnya yang dalam aneka kesempatan sering menyatakan bahwasanya Muhammad SAW dilahirkan di Arab, karena Arab adalah bangsa yang paling bejat dan paling rusak serta paling biadab.
Pendapat "ngawur" yang bersumber dari Orientalis ini sudah kami jawab dalam buku kami yang berjudul "Hancurkan Liberalisme dan Tegakkan Syariat Islam" artikel ke-4 dengan judul "Liberal, Gerombolan Rasis dan Fasis" hal 29 s/d 42. Bisa juga dilihat di link :
Karenanya, tidak heran lagi jika tokoh ini membela Baca Al-Qur'an dengan Langgam Jawa. Sikap Liberal tokoh ini sangat kental, tidak bisa disembunyikan.
NU harus dibersihkan dari segala pengaruh Liberal, karena NU yang didirikan oleh Almarhuum wal Maghfuur lahu Hadhrotus Syeikh Hasyim Asy'ari rohimahullaahu wa ardhoohu, adalah Rumah Besar Ahlus Sunnah wal Jama'ah Indonesia yang bermadzhab aqidah Asy'ari dan bermadzhab Fiqih Syafi'i. NU sama sekali tidak terlibat dengan pendapat-pendapat sesat kaum Liberal yang mengatas-namakan NU.
Semoga Allah SWT menjaga dan melindungi NU dan warganya dari makar Liberal. Aamiiin ... !"
4. RAIS SYURIAH PBNU : MASDAR F MAS'UDI
"Dan langgam itu berbeda antara satu masyarakat dan masyarakat lainnya. Kalau iya begitu, setiap komunitas boleh membaca Alquran dengan langgam yang lazim di kalangan mereka. Bisa langgam Jawa, Sunda, atau langgam lainnya,"
Dilansir dari www.nu.or.id, Selasa (19/5/2015).
Habib Rizieq : "Ini tokoh yang LEBIH KONTROVERSIAL lagi. Inilah penyusup Liberal dalam tubuh NU. Dan inilah orangnya yang pernah mengusulkan agar Jama'ah Haji Indonesia menunaikan Ibadah Haji di bulan SYAWWAL, agar terhindar dari kecelakaan akibat berdesak-desakan dengan jutaan Jama'ah Haji dari berbagai negeri. Nah, kalau pelaksanaan RUKUN ISLAM saja dia berani ubah, apalagi Bacaan Al-Qur'an ... !!! Na'uudzu Billaahi Min Dzaalik.
Ironis, NU yang ASWAJA dipimpin oleh orang yang tidak Aswaja. Semoga Allah SWT menyelamatkan NU dari para penyusup Liberal yang ingin merusaknya. Aamiiin.
5. TOKOH NU DAN WAKIL KETUA UMUM MUI PUSAT : MA'RUF AMIN
"MUI tidak ada sikap. Soal lagu apa saja yang penting tajwidnya, makharijul hurufnya (benar). Tidak boleh ada huruf yang berubah yang bisa mengubah makna. Sepanjang itu benar semua, ya silahkan saja, boleh,"
Dinyatakan dalam talk show "Peran Fatwa Ulama dalam Kehidupan Bermasyarakat dan Beragama," di Gedung MUI Pusat, Jl Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (21/05).
Habib Rizieq : "Biasanya Ma'ruf Amin sangat hati-hati dalam berpendapat, tapi kali ini beliau kurang hati-hati, sehingga tidak lagi memperhatikan BATASAN KHILAFIYAH yang bisa menimbulkan FITNAH, bahkan "sembrono" karena mengabaikan unsur ISTIHZAA Gerombolan Liberal Indonesia yang sedang mempropagandakan ISLAM NUSANTARA.
Padahal, Ma'ruf Amin itu sangat ANTI LIBERAL Mungkin karena beliau terlalu tergesa-gesa dalam menjawab. Wallaahu A'lam."
6. TOKOH NU & KETUA MUI PUSAT : SLAMET EFENDI YUSUF
“Semua yang berkaitan dengan jenis huruf yang dipakai, lagu yang digunakan atau jenis-jenis bacaan, itu semua adalah kreasi dari para ulama-ulama dahulu. Dan itu berarti merupakan bidah kebudayaan,”
“Karena itu para ulama atau pun para Wali zaman dulu, mereka mengubah lagu puji-pujian dengan bahasa lokal dikolaborasikan dengan bacaan Arabi yang berbau Timur tengah. Makanya jangan dulu ngomong ini bidah dolalah. Malahan, menurut saya ini bidah sosial yang harus dianjur-anjurkan,” .
Dinyatakan kepada ROL, Ahad (17/5).
Habib Rizieq : "Orang ini sedang MERACAU. Memang, Wali Songo menyebar-luaskan Islam di Indonesia melalui seni dan budaya, mereka melanggamkan Syair-Syair Islam, serta aneka Qoshidah dan Sholawat, dengan Langgam Jawa, tapi tidak pernah sekali pun mereka membaca Al-Qur'an dengan Langgam Dalang.
Pembacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa untuk ISTIHZAA memang BID'AH DHOLAALAH yang sesat dan menyesatkan."
7. INTELEKTUAL NU : AHMAD SAHAL
"Dalam Alquran kita bisa temukan sejumlah kata yang asalnya non-Arab, kek sijjil, misykah, qistas dll. Kata-kata non-Arab tersebut diserap dan jadi bagian dari bahasa Arab (tasyarrub). Itu bukti bahwa Alquran tak alergi dengan yang non-Arab. Kalau kata-kata yang asalnya dari non-Arab saja ada di Alquran, apa dasarnya anggapan @syarifbaraja langgam bacaan non-Arab tak hormati Alquran?"
Habib Rizieq : "IMAM SYAFI'I RA menolak keras adanya Lafazh Non Arab dalam Al-Qur'an, karena dengan tegas Allah SWT menyatakan bahwa Al-Qur'an diturunkan dalam BAHASA ARAB, sebagaimana Firman-Nya SWT dalam QS.12.Yusuf : 2, QS.20.Thoha : 113, QS.39. Az-Zumar : 28, QS.41.Fushshilat : 3, QS.42.Asy-Syura : 7 dan QS.43.Az-Zukhruf : 3.
Ada pun kata-kata yang disebut-sebut sebagai Lafazh Non Arab, seperti Abaariq (Persia), Asfaar (Suryani), Aroo-ik (Habasyi), dan lain-lain, semuanya berasal dari Bahasa Arab, namun karena Bangsa Arab jarang menggunakannya, lalu diserap oleh Bangsa lain, sehingga dikira sebagai Bahasa Bangsa lain.
Nah, kata-kata Arab yang hampir punah di tengah masyarakat Arab tersebut dikembalikan oleh Allah SWT kepada Bangsa Arab melalui Al-Qur'an. Inilah pendapat TERKUAT dan paling mu'tabar di kalangan ASWAJA.
ANDAI PUN kata-kata tersebut berasal dari Bahasa Non Arab, maka para Ulama sepakat bahwasanya ketika sudah jadi Bahasa Al-Qur'an, maka berarti Allah SWT sudah menjadikannya sebagai Bahasa Arab, karena Al-Qur'an ditutunkan dalam Bahasa Arab.
Dan itu pun bukan hujjah untuk pembolehan Langgam Non Arab untuk membaca Al-Qur'an, tidak ada KORELASINYA, alias TIDAK NYAMBUNG."
8. DOSEN UI & PENGURUS PARAMADINA : ADE ARMANDO
“Allah kan bukan orang Arab. Tentu Allah senang kalau ayat ayat-Nya dibaca jg dengan gaya Minang, Ambon, Cina, Hiphop…”
“Bagaimana kalau azan dikumandangkan dengan gitar rock elektrik? Dahsyat, bro!”
Sumber: Akun Twitter @adearmando1
Habib Rizieq : "Ini tidak perlu ditanggapi, karena pendapatnya tidak ilmiah, bahkan cenderung gila."
9. WARTAWAN LIBERAL : GUNTUR ROMLI
“Jadi kalau Wasekjen MUI bilang langgam Jawa itu “memalukan” ada 3 kemungkinan: 1. Belum terbiasa 2. Ilmunya cetek 3. Wahabi 
grin emotikon
 

Sumber: Akun Twitter @GunRomli
Habib Rizieq : "Kalau yang ini ada "Keterbelakangan Intelektual" alias Idiot, sehingga tidak perlu ditanggapi, hanya buang waktu."
10. PENDIRI JIL : ULIL ABSHAR ABDALLA
"Nanti malam, peringatan Isra’ Mi’raj di Istana. Konon, akan dibacakaan murattal Qur’an dengan langgam Jawa. Senang sekali”
(Sumber: Akun Twitter @Ulil pada 15 Mei 2015)
Habib Rizieq : "Ini bukti otentik bahwasanya sebelum Pembacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa dikumandangkan di Istana Negara, kalangan Liberal sudah mengetahuinya dan menyambutnya dengan senang, karena itulah yang mereka perjuangkan selama ini, sehingga mereka anggap itu sebagai kemenangan."
Demikianlah Komentar Liberal terkait Baca Al-Qur'an dengan Langgam Jawa. Sengaja semua komentar tersebut dimuat untuk diwaspadai umat Islam.
Wallaahul Musta'aan ...


oleh : AL HABIB MUHAMMAD RIZIEQ BIN HUSEIN BIN SYIHAB

Sumber asli

https://web.facebook.com/HabibRizieq/photos/a.247574938776823.1073741834.159905264210458/398975370303445/?type=1


KHILAFIYAH, INHIRAAF & FITNAH

KHILAFIYAH, INHIRAAF & FITNAH


Bismillaah wal Hamdulillaah ...
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ....

Dalam masalah KHILAFIYAH memang kita harus saling menghormati, karena hanya menyangkut persoalan FURU' yang berdiri atas dasar DALIL ZHONNI.
Namun bukan berarti, semua Khilafiyah kita biarkan merajalela, apalagi yang bisa menimbulkan FITNAH. Terlebih lagi INHIRAAF yaitu pendapat-pendapat yang menyimpang dan menyeleweng, maka sama sekali tidak boleh dikatagorikan sebagai Khilafiyah.
BATASAN KHILAFIYAH
Karenanya, diperlukan batasan Khilafiyah agar bisa dibedakan antara Khilafiyah yang boleh ditoleran dan yang tidak boleh ditoleran :
1. Khilafiyah yang sudah memasyarakat harus disikapi dengan toleransi penuh, seperti Melafazhkan Niat Shalat, Qunut dalam Shalat Shubuh, Adzan Jum'at Dua Kali, Tahlil, Marhabanan, Tawassul, Tabarruk, Talqin Mayyit, Shalat Tarawih 20 raka'at, Dzikir berjama'ah, Bersalaman setelah Shalat, dan sebagainya.
2. Khilafiyah yang tidak memasyarakat harus ditolak kehadirannya, apalagi yang menimbulkan FITNAH, seperti Masalah Kemakhluqan Al-Qur'an dan Nikah Mut'ah serta menjama' Shalat TANPA 'UDZUR sama sekali di Negeri ASWAJA, termasuk Baca Al-Qur'an dengan Langgam 'Ajam TANPA NIAT ISTIHZAA di negeri yang terbiasa menggunakan Qiraat Sab'ah dengan Variasi Tilawah yang Mu'tabar, dan sebagainya.
INHIRAAF
INHIRAAF adalah PENYIMPANGAN dan PENYELEWENGAN, sehingga sama sekali tidak boleh dikatagorikan sebagai Khilafiyah, seperti pendapat yang mengharamkan poligami, membolehkan homoseks dan lesbianisme, mengakui ada Nabi baru setelah Nabi Muhammad SAW, menyatakan Al-Qur'an sebagai produk Budaya dan buatan manusia, meyakini Al-Qur'an tidak asli lagi dan tidak lengkap sempurna, melecehkan Ahlul Bait dan Shahabat Nabi SAW, termasuk Baca Al-Qur'an dengan Langgam 'Ajam disertai Niat ISTIHZAA. Dan lain sebagainya.
AWAS FITNAH
Nah, karenanya jangan digeneralisir bahwa semua "perbedaan" boleh disebut Khilafiyah, sehingga penyimpangan dan penyelewengan pun dikatagorikan Khilafiyah.
Dan Khilafiyah pun tidak semuanya boleh ditoleran dan dibiarkan, sebab ada Khilafiyah yang bisa menimbulkan FITNAH jika dibuka di tempat dan waktu yang TIDAK TEPAT.
Oleh sebab itu, pernyataan oknum Pimpinan MUI Pusat bahwa Baca Al-Qur'an dengan Langgam Jawa hanya merupakan Khilafiyah, adalah sikap yang kurang hati-hati, karena tidak memperhatikan BATASAN KHILAFIYAH yang bisa menimbulkan FITNAH, bahkan "sembrono" karena mengabaikan unsur ISTIHZAA Gerombolan Liberal Indonesia yang sedang mempropagandakan ISLAM NUSANTARA.
Wallaahul Musta'aan


oleh : AL MUJAHID AL HABIB MUHAMMAD RIZIEQ BIN HUSEIN BIN SYIHAB

sumber asli


https://web.facebook.com/HabibRizieq/photos/a.205788042955513.1073741827.159905264210458/398646437003005/?type=1

ANTARA TIDAK BISA DAN ISTIHZAA

ANTARA TIDAK BISA DAN ISTIHZAA
Bismillaah wal Hamdulillaah ...
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ...

TIDAK BISA adalah tidak mampu, sedang ISTIHZAA adalah memperolok-olok dan melecehkan. Tentu hukum keduanya berbeda, tidak bisa disamakan.
HUKUM TIDAK BISA
Orang yang tidak mampu dan tidak bisa membaca Al-Qur'an dengan baik, tapi berkeinginan untuk membacanya semampunya, tanpa ada maksud melecehkannya, tiada mengapa, asal ia tetap terus belajar untuk memperbaiki bacaannya :
1. Seseorang membaca Al-Qur'an dengan tanpa Idghom, Ikhfaa, Izh-haar mau pun Iqlaab dan Qolqolah, karena tidak mampu, akibat sulit memahami Ilmu Tajwid, tidak mengapa, karena memang TIDAK BISA.
2. Seseorang yang membaca Al-Qur'an dengan Langgam suatu suku atau daerah, karena tidak mampu membacanya dengan Langgam Arab yang semestinya, tidak mengapa, karena memang TIDAK BISA.
3. Seseorang membaca "Robbil 'Aalamiin" dengan bacaan "Robbil Ngaalamiin", lalu baca "Muhammad" dengan bacaan "Mukammad", karena tidak mampu, akibat pengaruh cengkok dan dialek atau loghat daerahnya, tidak mengapa, karena memang TIDAK BISA.
Tentu mereka yang TIDAK BISA tiada berdosa, akan tetapi tetap wajib belajar untuk terus memperbaiki bacaannya.
HUKUM ISTIHZAA'
Kini persoalannya adalah mereka yang mampu dan bisa membaca Al-Qur'an dengan baik, tapi sengaja membacanya sembarangan :
1. Manakala seseorang mampu membaca Al-Qur'an dengan Tajwid yang baik, tapi sengaja membacanya tanpa Tajwid, sehingga bacaannya banyak salah. Apa itu bukan ISTIHZAA ?!
2. Manakala seseorang mampu membaca Al-Qur'an dengan Langgam Arab yang semestinya, lalu ia sengaja membacanya dengan Langgam suatu suku atau daerah yang TIDAK LAZIM, sehingga menimbulkan FITNAH. Apa itu bukan ISTIHZAA ?!
3. Manakala seseorang mampu membaca "Robbil 'Aalamiin", tapi ia sengaja membacanya "Robbil Ngaalamiin", lalu ia mampu membaca "Muhammad", tapi sengaia membacanya "Mukammad". Apa itu bukan ISTIHZAA ?!
Nah, pertanyaan berikutnya : Apa hukum orang yang ISTIHZAA tehadap Kalaamullaah ???!!!
KHILAFIYAH MADZHAB
Gerombolan Liberal mencari-cari Dalil Pembenaran bagi Bacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa melalui "Khilafiyah Madzhab" tentang Bacaan Al-Qur'an dengan Langgam 'Ajam (Langgam Bukan Arab).
Memang, pernah ada pendapat yang membolehkan Bacaan Al-Qur'an dengan Langgam 'Ajam, akan tetapi itu dimaksudkan bagi Masyarakat 'Ajam yang memang tidak mampu membaca dengan Langgam Arab sebagaimana mestinya, seperti yang mengalami kesulitan pengucapan Lisan Arab karena persoalan cengkok dan lidah, atau dialek dan loghat kesukuan mau pun kedaerahannya.
Itu pun di zaman penyebaran Islam di negeri-negeri 'Ajam, termasuk Indonesia, untuk menarik para MUALLAF agar mau baca Al-Qur'an.
Sedang kini, di Indonesia masyarakat muslimnya adalah mayoritas, dan mereka bukan muallaf lagi. Bahkan mereka sudah sangat fasih baca Al-Qur'an, hingga sering menjadi Juara Qiraa-aat Internasional.
Karenanya, pembolehan Bacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa di Indonesia saat ini merupakan langkah mundur ke zaman muallaf, bahkan ke zaman primitif.
Jadi, Gerombolan Liberal telah mengalami "Keterbelakangan Intelektual" yang sangat parah, sehingga selalu "Gagal Paham" terhadap nash-nash Hukum Islam.


oleh :

AL MUJAHID AL HABIB MUHAMMAD RIZIEQ BIN HUSEIN BIN SYIHAB

sumber asli :



Rabu, 27 Mei 2015

ISLAM NUSANTARA

ISLAM NUSANTARA
Bismillaah wal Hamdulillaah ...
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ...

Pada tanggal 17 April 2015, dalam Forum kita ini diturunkan Artikel dengan judul "Guru Kencing Berdiri Murid Kencingi Guru", yang menyajikan 17 Dialog antara Guru Liberal dan Murid Lugu dalam 17 masalah, untuk menginformasikan kepada publik tentang BAHAYA LIBERAL.
Kini, dengan pola yang sama kita turunkan 7 Dialog antara Guru Liberal dan Murid Lugu tentang ISLAM NUSANTARA yang sedang heboh diusung GEROMBOLAN LIBERAL yang terkutuk :
1. ISLAM DI-INDONESIA-KAN
GURU LIBERAL : Indonesia punya akar budaya yang panjang, sehingga Islam di Indonesia harus di-Indonesia-kan agar tunduk kepada akar budaya setempat.
MURID LUGU : Kalau begitu, Masyarakat Jahiliyah Mekkah di zaman Rasulullah SAW juga punya akar budaya yang panjang, mestinya Islam di Mekkah saat itu di-Jahiliyah-kan agar tunduk kepada akar budaya setempat.
2. ISLAM PENDATANG
GURU LIBERAL : Islam itu hanya pendatang yang numpang di Indonesia, sehingga harus terima untuk di-Indonesia-kan.
MURID LUGU : Kalau begitu, Islam juga pendatang di Cina sehingga harus terima untuk di-Cina-kan, dan Islam pun pendatang di India sehingga harus terima untuk di-India-kan, serta Islam pendatang pula di Amerika sehingga harus terima untuk di-Amerika-kan.
3. KOMBINASI BUDAYA
GURU LIBERAL : Pembacaan Al-Qur'an dengan Langgam Dalang Jawa adalah Kombinasi Budaya yang menarik.
MURID LUGU : Kalau begitu, Al-Qur'an boleh dibaca dengan Langgam Sunda Wiwitan dan Langgam Sinden Jaipongan, serta Langgam Betawi Gambang Kromong, bahkan boleh juga dibaca dengan Langgam Pop dan Langgam Dangdut, serta Langgam Goyang Ngebor, karena semuanya Kombinasi Budaya yang menarik, bahkan sangat menarik.
4. ISLAM EKSKLUSIF
GURU LIBERAL : Agama selain Islam tidak ada masalah Kitab Sucinya dibaca dengan aneka Langgam, bahkan dilagukan dan dinyanyikan dengan diiringi musik. Karenanya Islam jangan Eksklusif melarang itu dong.
MURID LUGU : Kalau begitu, Agama selain Islam tidak ada masalah dengan "Syirik" sehingga semuanya mempersekutukan Allah SWT. Karenanya Islam jangan Eksklusif melarang "Syirik" dong.
5. NIAT BAIK
GURU LIBERAL : Baca Al-Qur'an dengan Langgam Jawa boleh saja sepanjang niatnya baik.
MURID LUGU : Kalau begitu, apalagi menyanyikan Lagu Indonesia Raya yang bukan Kitab Suci, tentu lebih boleh lagi dinyanyikan dengan nada Balonku Ada Lima, atau nada Cicak Di Dinding, atau nada Aku Seorang Kapiten, atau nada Si Kancil Nyolong Ketimun, dan lainnya, sepanjang niatnya baik.
6. ARABISASI
GURU LIBERAL : Islam itu harus dibersihkan dari unsur Arabisasi.
MURID LUGU : Kalau begitu, hapuskan 
bahasa Arab dari Al-Qur'an dan hapuskan kebangsaan Arab Nabi SAW dan para Shahabatnya, serta hapuskan sejarah Islam dari Negeri Arab.

7. WALAU TIDAK LAZIM
GURU LIBERAL : Tidak apa mengiringi bacaan Al-Qur'an dengan musik, apalagi sekedar membacanya dengan Langgam Nyanyian, toh Langgam juga namanya, walau tidak lazim.
MURID LUGU : Kalau begitu, tidak apa Makan sambil BAB, apalagi dicampur makanannya dengan yang keluar dari BAB, toh itu adalah sisa makanannya sendiri, sehingga tidak terbuang percuma, walau tidak lazim.
Wallaahul Musta'aan

oleh al habib muhammad rizieq bin husein bin syihab

sumber asli :


https://web.facebook.com/HabibRizieq/posts/398046553729660:0

ULAMA MESIR MEMBOLEHKAN PEMBACAAN AL-QUR'AN DENGAN LANGGAM JAWA



Muhammad rizieq bin husen bin syihab


ULAMA MESIR MEMBOLEHKAN PEMBACAAN AL-QUR'AN DENGAN LANGGAM JAWA ???

INFO MESIR : Beredar berita bahwa sejumlah Masyaikh Al-Azhar di Cairo Mesir membolehkan Pembacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa, sebagaimana disebar-luaskan sebuah Blog dengan Link :
Disebutkan bahwa seorang Mahasiswa Pascasarjana Indonesia yang sedang menempuh program S2 di Universitas Al-Azhar menunjukkan video rekaman Pembacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa kepada sejumlah Masyaikh Al-Azhar, antara lain :
1. Syaikh Jamal Faruq Al-Daqqaq (Dekan Fakultas Da’wah Universitas Al-Azhar dan anggota ulama pakar Al-Azhar)
2. Syaikh Ahmad Hajin (Pengajar ilmu Hadis di Al-Azhar)
3. Syaikh Toha Hubaisyi (Anggota pentashih Al-Quran Mesir dan pengajar senior ilmu Tasawuf dan hafal kitab Ihya Ulumuddin milik Imam Al-Ghazali)
Kemudian disimpulkan bahwa ketiga Masyaikh Al-Azhar tersebut membolehkannya dengan alasan 
karena orang Non Arab memiliki langgam sendiri dan cara mengejanya tidak sepenuhnya sama seperti lisan orang Arab, yang terpenting adalah tajwidnya dan pemahaman terhadap maknanya, karena irama mengikuti artikulasi teks yang dibacanya.

TANGGAPAN IMAM BESAR FPI
Sehubungan dengan berita di atas, Imam Besar Front Pembela Islam di Indonesia, yang juga menjabat sebagai Grand Mufti Kesultanan Sulu di Selatan Philipina dan Utara Sabah Malaysia, dengan gelar Dato' Paduka Maulana Syar'i Sulu (DPMSS), sekaligus Kandidat Doktor Filsafat dan Syariat di Universiti Sains Islam Malaysia (USIM), Al-Habib Muhammad Rizieq bin Husein Syihab Lc, MA, menanggapi sebagai berikut :
Kebenaran berita tersebut harus dikonfirmasikan kepada ketiga Masyaikh Al-Azhar tersebut. Dan harus diinformasikan juga kepada para Masyaikh Al-Azhar sebagai berikut :
1. Bahwasanya pembacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa tersebut bukan karena orang Indonesia tidak fasih mengucapkan Lisan Arab. Bahkan, Alhamdulillaah, masyarakat Indonesia sejak lama sudah sangat fasih mengucapkan Lisan Arab.
2. Bahwasanya pembacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa tersebut bukan juga karena ketidak-mampuan orang Indonesia membaca dengan Langgam Qiraa-aat Al-Qur'an yang Mu'tabar. Bahkan, Alhamdulillaah, Para Qori Indonesia sudah sering menjadi Juara Internasional dalam berbagai Musabaqoh Tilawatil Qur'an tingkat Dunia.
3. Bahwasanya pembacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa tersebut merupakan bagian dari Gerakan Liberal untuk meng-Indonesia-kan Islam, bukan meng-Islam-kan Indonesia, karena menurut mereka bahwa Islam hanya "pendatang" yang "numpang" di Indonesia, sehingga harus diwarnai dengan Budaya Asli Indonesia.
4. Bahwasanya pembacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa tersebut merupakan bagian dari Gerakan Liberal untuk menolak apa yang mereka sebut "Arabisasi Islam".
5. Bahwasanya Gerakan Liberal di Indonesia memiliki program "Anti Arabisasi" antara lain :
a. Menolak ucapan "Assalaamu 'alaikum" karena Budaya dan Bahasa Arab, sehingga harus diganti dengan Budaya dan Bahasa Indonesia.
b. Menolak 'Imamah, Gamis dan Sorban karena Budaya Arab, sehingga wajib diganti dengan Budaya Indonesia seperti Batik dan Blangkon. Namun lucunya mereka merasa bangga jika menggunakan Jas dan Dasi Barat walau bukan Budaya Indonesia.
c. Menolak Jenggot karena Budaya Arab, sehingga tidak usah pelihara jenggot. Tapi lucunya mereka sangat respect dengan mode rambut "punk" di kawula muda sebagai bentuk ekspresi kebebasan, walau pun bukan Budaya Indonesia.
d. Menolak "Jilbab" karena Budaya Wanita Arab, sehingga wajib diganti dengan Budaya Wanita Indonesia seperti Kebaya atau Kekemben dengan selembar kain. Namun mereka teramat suka dengan Busana Barat yang umbar Aurat, walau bukan Budaya Indonesia.
e. Menolak pengkafanan mayyit dengan Kain Putih karena beraroma Tradisi Arab, sehingga perlu diganti dengan Kain Batik agar kental aroma Indonesia. Bahkan mereka mulai tertarik dengan pakaian Jas dan Dasi Barat buat mayyit sebagaimana pengurusan Jenazah Non Islam, dengan dalih jauh lebih keren dan rapih ketimbang "pocong", walau bukan Budaya Indonesia.
f. Menolak istilah-istilah yang diambil dari Bahasa Arab, hingga sebutan Abi dan Ummi pun mereka kritisi, sehingga harus diganti dengan istilah-istilah Indonesia, tapi lucunya mereka alergi dengan istilah Arab namun sangat suka dan amat fasih menggunakan istilah-istilah Barat.
g. Menolak penamaan anak dengan nama-nama Islam yang diambil dari
Bahasa Arab, sehingga anak Indonesia harus diberi nama Indonesia. Tapi lucunya mereka senang dan bangga dengan penamaan anak Indonesia dengan nama-nama Barat dengan dalih lebih modern, walau pun bukan nama Indonesia.

h. Menolak Tilawah Al-Qur'an dengan Langgam Qiraa-aat Sab'ah yang Mu'tabar karena merupakan Langgam Arab, bahkan sebagian variasi bacaan dalam Qiraa-aat Al-Qur'an difitnah sebagai Langgam Tari Perut Arab, sehingga harus diganti dengan Langgam Jawa yang biasa digunakan oleh Para Dalang dalam Cerita Pewayangan, bahkan ke depan perlu LEBIH DIRAGAMKAN dengan aneka Langgam Nusantara lainnya agar lebih Indonesia, seperti : Langgam Sunda yang digunakan dalam ritual Sunda Wiwitan, lalu Langgam Para Sinden dalam acara Jaipongan, lalu Langgam Betawi yang digunakan dalam Gambang Kromong, lalu Langgam Bali dalam Tari Kecaknya, dan seterusnya.
ISLAM NUSANTARA
Intinya, tolak semua Budaya Islam yang beraroma Arab, karena dalam pandangan mereka semua itu adalah "Arabisasi Islam", sehingga perlu ada Gerakan "Indonesia-isasi Islam" di Nusantara. Inilah yang mereka sebut ISLAM NUSANTARA.
Gerakan Islam Nusantara telah menumbuh-suburkan sikap RASIS dan FASIS terhadap Bangsa dan Budaya Arab. Jika mereka bisa mendapatkan jalan untuk menolak KEARABAN bahasa Al-Qur'an atau KEARABAN bangsa Nabi Muhammad SAW dan Keluarga serta para Shahabatnya, niscaya akan mereka lakukan, saking bencinya dengan Arab.
Pertanyaannya : "Jika para Masyaikh Al-Azhar mengetahui informasi ini secara lengkap dan memahami gerakan Liberalisasi Islam di Indonesia secara komprehensif, maka apakah mungkin mereka membolehkan pembacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa ???!!!"
Karenanya, para Mahasiswa Aswaja Indonesia di Al-Azhar harus sigap dan cekatan serta segera bergerak cepat menginformasikan kepada para Masyaikh Al-Azhar dengan informasi lengkap dan komprehensif agar mereka tidak terjebak dengan kelicikan Liberal dan tidak dijadikan kuda tunggangan Liberal.
Ayo ... bergerak, infokan ke seluruh Dunia Islam tentang Kelicikan Gerakan Liberal di Indonesia yang sering "Manipulasi Hujjah" dan "Korupsi Dalil" serta "Rekayasa Fatwa" untuk kepentingan "Syahwat Syaithooniyyah" mereka.
Ayo ... Tolak Propaganda Islam Nusantara yang ingin menolak Budaya Islam dengan dalih Budaya Arab.
Wallaahul Musta'aan ...
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ...


sumber asli :

https://web.facebook.com/HabibRizieq/posts/397298287137820:0

RACAUAN LIBERAL : BACA AL-QUR'AN DENGAN LANGGAM DALANG



RACAUAN LIBERAL : BACA AL-QUR'AN DENGAN LANGGAM DALANG

Istana Negara di Jakarta menggelar acara peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW pada Jum'at (15/5/2015).
Turut hadir dalam acara tersebut presiden Joko Widodo (Jokowi) beserta istri. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, sejumlah pejabat dan anggota DPR, serta para undangan lainnya.
Acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Quran oleh dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Muhammad Yasser Arafat.
Pembacaan ayat suci ini menuai kontroversi di masyarakat dan banyak diperbincangkan di media sosial. Pasalnya, pembacaan ayat suci tersebut menggunakan Langgam (irama) Dalang seperti pada Pagelaran Wayang.
( Lihat videonya: https://www.youtube.com/watch… )
MENTERI AGAMA, REKTOR IIQ DAN MUI
Menanggapi banyak kecaman dari masyarakat, Menteri Agama lewat akun Twitter resminya mengeluarkan jawaban: "Tujuan pembacaan Al-Quran dengan langgam Jawa adalah menjaga dan memelihara tradisi Nusantara dalam menyebarluaskan ajaran Islam di tanah air," kata Lukman, Minggu (17/5).

Majelis Ulama Indonesia (MUI) lewat website resminya pada Ahad (17/5) juga mengeluarkan artikel tanggapan. Mereka mengutip dan mempublis pendapat Rektor Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ) periode 2014, KH Ahsin Sakho Muhammad.
"Ini adalah perpaduan yang baik antara Kalamullah dari langit yang menyatu dengan bumi yakni budaya manusia. Itu sah diperbolehkan,” kata Ahsin Sakho.
SIKAP FPI
Terkait masalah ini, Imam Besar Front Pembela Islam, Habib Muhammad Rizieq Syihab mengeluarkan tanggapannya:
"Menag dan Rektor IIQ sedang MERACAU. Memang, Wali Songo menyebar-luaskan Islam di Indonesia melalui seni dan budaya, mereka melanggamkan Syair-Syair Islam, serta aneka Qoshidah dan Sholawat, dengan Langgam Jawa, tapi tidak pernah sekali pun mereka membaca Al-Qur'an dengan Langgam Dalang." Sanggah beliau lewat pesan elektronik yang diterima Tim News FPI, Senin (18/5).
"Al-Qur'an adalah Kitab Suci yang sangat mulia dan agung. Hingga Mush-haf Al-Qur'an ikut menjadi mulia karena kemuliaan isinya, sehingga tidak boleh SEMBARANGAN kita sentuh atau letakkan atau bawa kemana-mana." Lanjut Habib.
"Dan Qiraa-aat Al-Qur'an pun kedudukannya sangat mulia, sehingga hanya boleh ikut Qiraa-aat Rasulullah SAW yang sampai kepada kita secara Mutawatir. Dalam Tilawatil Qur'an pun ada cara baca dengan variasi khusus, baik Murottal mau pun Mujawwad, yang disepakati para Imam Qurraa sejak lama, sehingga tidak boleh SEMBARANGAN baca, apalagi dilagukan dengan nada-nada yang tidak lazim, seperti dengan Langgam Dalang." papar Habib.
"Jika pembacaan Al-Qur'an dengan Langgam Dalang dibiarkan dengan dalih seni dan budaya, maka besok akan muncul pembacaan Al-Qur'an dengan Langgam Sinden, lalu Langgam Jaipongan, lalu Langgam Gambang Kromong, lalu Langgam Dangdut, lalu Langgam Pop, lalu Langgam Rock, lalu langgam Disco, lalu Langgam Rap, hingga Langgam Cina dan India serta langgam goyang ngebor, goyang ngecor dan seterusnya, hingga akhirnya Pembacaan Al-Qur'an tidak beda dengan lagu dan nyanyian." Jelas Habib memperingatkan.
"Jika seseorang membaca Al-Qur'an, lalu terbawa dengan berat loghat lidahnya atau terhalang cengkoknya, sehingga terkadang terasa ada unsur loghat daerahnya tanpa unsur kesengajaan, bisa dimaklumi dan tidak mengapa. Sedang yang di Istana itu disengaja dan dibuat-buat serta konyol dan lebay, sehingga merupakan pelecehan Al-Qur'an." pungkas Habib.
Terkait dengan Web Resmi MUI yang mengutip panjang lebar dalil-dalil pembenaran Rektor IIQ, sehingga terkesan MUI merestuinya, maka Habib Rizieq memperingatkan dengan keras : "Hati-hati, jangan sampai MUI larut dalam RACAUAN LIBERAL ... !!!"
Tudingan Habib Rizieq bahwa itu adalah RACAUAN LIBERAL bukan sembarangan, tapi ternyata Bacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa yang kini mencengkeram Istana, sudah lebih dahulu dilakukan oleh Pendiri JIL Ulil Abshar, berikut linknya :
(Tim News FPI)


https://web.facebook.com/HabibRizieq/posts/396823233851992:0