Habib Rizieq

Habib Rizieq

Jumat, 17 Juli 2015

SEBELAS KAUKAB

SEBELAS KAUKAB
oleh : HABIB Muhammad Rizieq Syihab


Bismillaah wal Hamdulillaah ...
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ...

Dalam QS.12.Yusuf ayat 4 , Allah SWT menceritakan tentang mimpi Nabi Yusuf AS yang melihat Sebelas KAUKAB dan MATAHARI serta BULAN :
إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ
"(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: "Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat SEBELAS KAUKAB dan Matahari serta Bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku".
KAUKAB dan NAJM
Sepanjang sejarah masyarakat Arab, kata KAUKAB selalu diidentikkan dengan kata NAJM yang artinya BINTANG.
Namun, dalam QS.24.An-Nuur : 35, tatkala Allah SWT memberikan perumpamaan Cahaya-Nya, diceritakan tentang REFLEKSI CAHAYA dalam Kaca yang pantulannya bagaikan KAUKAB yang berkilau. Ini menjadi isyarat bahwa cahaya KAUKAB adalah hanya merupakan PANTULAN.
Inilah yang membedakan KAUKAB dan NAJM sebagai Benda Langit. Dimana KAUKAB adalah Benda Langit yang hanya memantulkan cahaya Matahari, bukan memiliki cahaya dari dalam dirinya.
Nah, Benda Langit yang memantulkan cahaya ada yang dominan di orbitnya, itulah yang disebut PLANET seperti Bumi. Namun ada juga yang tidak dominan di orbitnya.
Benda Langit yang memantulkan cahaya dan tidak dominan di orbitnya terbagi dua : Pertama, yang terkait dan ikut menyertai Planet, inilah yang disebut SATELIT seperti Bulan yang jadi Satelit bagi Bumi. Dan Kedua adalah selain Planet dan Satelit.
Sedang NAJM adalah Benda Langit yang menghasilkan cahaya dari dirinya sendiri, bukan pantulan, ini yang dikenal sebagai BINTANG.
Salah satu Bintang di Jagat Raya yang sangat terkenal dan akrab dengan kehidupan manusia di Bumi adalah BINTANG KUNING yang populer dengan nama MATAHARI.
TAFSIR KAUKAB
Dalam banyak kitab Tafsir mau pun Terjemah Al-Qur'an, kata KAUKAB sering diartikan BINTANG. Tentu tidak salah, karena sudah sesuai dengan makna bahasa sebagaimana digunakan masyarakat Arab sejak lama.
Namun, memperhatikan cerita mimpi Nabi Yusuf AS tentang SEBELAS KAUKAB dan MATAHARI serta BULAN, mengisyaratkan bahwa KAUKAB yang dimaksud adalah BENDA LANGIT yang bukan dari jenis BINTANG seperti MATAHARI dan bukan pula dari jenis SATELIT seperti BULAN.
Dengan demikian isyarat ilmiah tersebut menunjukkan bahwasanya yang dimaksud Kaukab dalam ayat tersebut adalah PLANET yang hanya memantulkan cahaya Matahari, tidak memiliki cahaya dari dalam dirinya, dan ia dominan di orbitnya, sehingga tidak menjadi satelit bagi Benda Langit yang lainnya.
Karenanya, para Ahli Mu'jizat Ilmiah Al-Qur'an di era Sains saat ini menafsirkan mimpi Nabi Yusuf AS bahwa beliau melihat SEBELAS PLANET dan MATAHARI serta BULAN.
Subhaanallaah ...
Pertanyaannya : Benarkah jumlah PLANET ada 11 (sebelas) ?
Insya Allah, akan dipaparkan dalam artikel selanjutnya.

KRISTEN RADIKAL PAPUA SERANG UMAT ISLAM SAAT SHOLAT IDUL FITHRI

KRISTEN RADIKAL PAPUA SERANG UMAT ISLAM SAAT SHOLAT IDUL FITHRI

Jum'at pagi saat umat islam di seluruh Indonesia bergembira merayakan hari kemenangan Idul Fithri, sementara kaum muslimin di Kabupaten Tolikara (Karubaga) di Propinsi Papua saat sedang melaksanakan Shalat Idul Fithri justru diserang oleh kelompok Kristen Radikal Papua.
Gerombolan GIDI (Gereja Injili Di Indonesia) Wilayah Toli melempari umat Islam yang sedang Shalat Idul Fithri dengan batu, lalu membakar masjid, rumah dan toko umat muslim.
Tidak kurang 10 orang umat muslim mengalami luka bakar. Dan kehilangan tempat tinggal serta pencahariannya. Saat ini umat islam diungsikan ketempat yang aman oleh aparat setempat.
Berikut KRINOLOGIS kejadian:
1. Tanggal 11 Juli 2015 terdapat SURAT EDARAN resmi dari GIDI yang ditandatangani oleh Pdt. Marthen Jingga S.Th Ma dan Pdt. Navus Wenda S.Th yang berisi bahwasanya GIDI Wilayah Toli melarang Perayaan Idul Fithri dan juga melarang muslimah berjilbab di seluruh Kabupaten Tolikara.
2. Tanggal 17 Juli 2015 hari Jum'at pagi jam 07.00 WIT saat Hari Raya Idul Fithri, tatkala umat Islam melaksanakan Sholat Idul Fithri di lapangan Makoramil 1702-11/Karubaga, terjadi PROVOKASI dari Pdt. Marthen Jingga dan Koorlapnya yang bernama Harianto Wanimbo dengan menggunakan megaphone berorasi untuk membubarkan Ibadah Shalat Idul Fithri di Tolikara.
3. Pukul 07.05 WIT Saat memasuki Takbir ke 7 rakaat pertama Shalat Idul Fithri massa dari Pdt. Marthen Jingga dan Harianto Wanimbo (Koorlap) mulai berdatangan dan melakukan aksi pelemparan batu dari bandara Karubaga dan luar lapangan Makoramil 1702-11/karubaga, dan secara paksa berusaha membubarkan kegiatan Sholat Idul Fitri dan mengakibatkan kepanikan jamaah yang sedang melaksanakan shalat. Lalu massa perusuh langsung melakukan pelemparan batu dan perusakan kios-kios yang berada di sekitar Masjid Baitul Mutaqin. Aparat keamanan berusaha membubarkan massa dengan mengeluarkan tembakan peringatan, namun massa semakin bertambah dan melakukan pelemparan batu kepada aparat keamanan.
4. Jam 8 kelompok Kristen Radikal melakukan tindakan BRUTAL dan ANARKIS berupa pembakaran kios-kios dan Masjid Baitul Mutaqin serta rumah warga muslim, sehingga tidak kurang dari 10 orang muslim mengalami luka bakar.
Ini adalah kesekian kalinya diskriminasi intoleransi yang dilakukan kelompok Kristen Radikal di Papua.
DAFTAR PENGURUS GIDI
BADAN PEKERJA PUSAT (BPP) GEREJA INJILI DI INDNESIA (GIDI)
President : Pdt. Dorman Wandikbo
Wakil president : Pdt. Usman Kobak, S.Th, MA
Sekretaris Jenderal : Pdt. Samuel Souga, S.Th
Wakil Sekretaris Jenderal : Timmy Taime, SH
Bendahara : Ev. Yulyus Bidana
Wakil Bendahara : Pdt. Yan Koireuwa
SURAT EDARAN GIDI ( foto terlampir )

SIKAP FPI
Pernyataan Imam Besar FPI, Al-Habib Muhammad Rizieq Syihab, tentang Peristiwa Idul Fithri berdarah di Tolikara - Papua :
"Itu perbuatan BIADAB !!! Mereka KAFIR HARBI yang harus dibasmi !!! Mereka telah menodai Agama, Bangsa dan Negara !!!
Kita serukan Pemerintah RI, khususnya aparat pertahanan dan keamanan, yaitu TNI dan POLRI, untuk segera mengambil tindakan tegas terhadap para perusuh yang telah membakar Masjid dan menjarah pasar umat Islam di Papua, sehingga berjatuhan korban dari umat Islam pada Jum'at pagi di Hari Raya Idul Fithri 1436 H.
Termasuk seluruh pengurus Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) Badan Pekerja Wilayah Toli - Papua yang telah memprovokasi masyarakat Keisten Papua melalui Surat Edaran tertanggal 11 Juli 2015 yang ditanda tangani Pdt.Navus Wenda dan Pdt.Marthen Jingga, yang melarang Perayaan Idul Fitri bagi umat Islam dan Pemakaian Jilbab bagi muslimah di seluruh Wilayah Tolikara - Papua. Begitu juga para MISSIONARIS ASING yang selama ini terlibat bekerja-sama dengan GIDI. Tangkap mereka !!!
Saya serukan agar jangan sampai lebih dari 2 x 24 jam, para perusuh dan para aktor intelektualnya serta misionaris asing yang terlibat, harus segera ditangkap, sebelum para JIHADIS dari seluruh pelosok Tanah Air turun ke Papua untuk mengeksekusi mereka dengan prinsip : Luka dibayar dengan Luka, dan Darah dibayar dengan Darah, serta Nyawa dibayar dengan Nyawa."
Selanjutnya, Imam Besar FPI mengisyaratkan agar seluruh Laskar FPI se Indonesia wajib SIAGA I, sehingga kapan saja diinstruksikan untuk ke Tolikara membela Agama, Bangsa dan Negara harus siap berjihad.
Team News FPI

Selasa, 14 Juli 2015

NASA & LAILATUL QADAR

NASA & LAILATUL QADAR

oleh :
Habib  Muhammad Rizieq Syihab

Bismillaah wal Hamdulillaah ...
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ...

Salah satu ciri Lailatul Qadar adalah "BALJAH" yaitu situasi dimana pada pagi hari Matahari terbit dengan tanpa radiasi cahaya, sehingga suhunya sedang tidak panas, dan di malam harinya tiada Bintang yang terlihat di langit, walau tidak ada awan tebal atau pun cuaca mendung yang menutupinya. Selain itu, tidak ada meteor yang jatuh masuk ke Atmosfir Bumi.
Padahal di pagi hari biasa, Matahari terbit dengan radiasi cahaya, sehingga terasa panas. Dan di malam harinya, jika cuaca cerah tidak berawan atau tidak mendung, maka sekurangnya ada 10 (sepuluh) Bintang yang selalu terlihat, bahkan setiap malam tidak kurang dari 20.000 (dua puluh ribu) meteor yang jatuh ke Atmosfir Bumi.
Di bulan Ramadhan pada 10 (sepuluh) tahun yang lalu, Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) pernah menemukan situasi "BALJAH" yang merupakan ciri Lailatul Qadar. Namun fakta tersebut disembunyikan dan tidak dipublikasikan NASA, agar non Muslim tidak tertarik masuk Islam.
Namun akhirnya, seorang pakar NASA yang bernama CARNER tak kuasa menyembunyikan Fakta Ilmiah tersebut, sehingga ia mempublikasikannya dan sekaligus mendeklarasikan diri masuk agama Islam, walau pun harus kehilangan jabatannya di NASA.
Kepala Lembaga Mukjizat Ilmiah Al-Quran dan As-Sunnah di Mesir, Dr. Abdul Basith As-Sayyid mengkritik keras NASA yang telah dengan sengaja menyembunyikan bukti empiris ilmiah tentang (malam) Lailatul Qadar.
Ini bukan pertama kalinya, NASA menyembunyikan Fakta Ilmiah terkait Mu'jizat Ilmiah Al-Qur'an. NASA pernah menghilangkan satu halaman di situs resminya yang pernah dipublikasikan selama 21 hari. Halaman itu berisi hasil ilmiah tentang cahaya aneh yang tidak terbatas dari Ka’bah di Baitullah ke Baitul Makmur di langit. Terkait hal ini Prof.DR.Muhammad Zaglul An-Najjar menyampaikan protes keras kepada NASA.
Semua berita di atas dilansir sejumlah media di Eropa dan Timur Tengah pada awal Juli 2015.
Maha Suci Allah SWT yang telah memberitakan keagungan Lailatul Qadar melalui Surat Al-Qadar, dan menceritakan tentang turunnya Jibril AS dan para Malaikat yang mulia hingga terbitnya Fajar.

Sabtu, 11 Juli 2015

MOHON PAMIT WAHAI RAMADHAN

MOHON PAMIT WAHAI RAMADLAN 
Penulis: Pejuang Islam [ 18/8/2012 ]



K.H. Luthfi Bashori

(18 Agustus di malam Takbiran 1433).

Konon Sy. Ali bin Abi Thalib RA, jika masuk waktu akhir Ramadlan, beliau jarang meninggalkan mihrab (tempat pengimaman shalat), beliau seakan-akan memutuskan untuk bermukim di sana sambil bermunajat kepada Allah disertai tetesan air mata mengalir deras.

Sy. Ali bin Abi Thalib menampakkan kesedihan yang sangat dalam karena harus berpisah dengan bulan yang paling dicintainya, yaitu Ramadlan. Air mata beliau menetes hingga membasahi jenggotnya, sambil diusap jenggot yang basah itu, sambil terus berdzikir kepada Allah tak henti-hentinya hingga menjelang Subuh.

Beliau sudah merasakan betapa nikmatnya selama Ramadlan, sebulan suntuk dapat berdoa mendekatkan diri kepada Allah, seakan-akan beliau dapat bertemu dan berdialog secara langsung dengan Allah, karena dekatnya perasaan beliau kepada-Nya.

Khususnya di bulan Ramadlan yang konon di dalamnya, Allah menurunkan ayat istimewa kepada sang kekasih, Rasulullah SAW : wa idzaa sa-alakaa `ibaadii `annii fa innii qariib (jika hamba-hamba-Ku bertanya tentang Aku, sungguh Aku dekat dengan mereka).

Kedekatan hati Sy. Ali bin Abi Thalib kepada Allah inilah yang mendorong beliau dapat berperilaku mulia semacam itu. Bahkan beliau dengan tegas mengatakan terhadap kehidupan dunia ini :

`` Wahai dunia, engkau selalu memamerkan kemegahan kepadaku atau sengaja terus menggodaku, sungguh aku telah menceraikanmu dengan talak tiga, dan tak mungkin untuk merujukmu kembali, umurmu tinggal sedikit, kelakuanmu amat naif, bahayamu sungguh besar, padahal baru sedikit aku mempersiapkan bekal, untuk bepergian jauh lewat jalan yang penuh liku dan terjal, menuju kampung akhirat ``

Demikianlah guman Sy. Ali bin Abi Thalib dalam membersihkan diri terhadap kehidupan dunia. Namun, bagaimana dengan keadaan kita di penghujung Ramadlan tahun ini?

Lisan kita justru berguman : Alhamdulillah, ternyata sudah berhasil rukyah hilal..., dan rukyah hilal sudah diitsbat pemerintah, jadi esok Ahad pagi kita berlebaran...! Kalimat semacam itu barangkali yang pertama kali kita ucapkan saat mendengar takbir pertama dikumandangkan dan menembus telinga kita.

Jika saja kita menyadari, betapa malu rasanya diri kita jika disandingkan dengan figur Sy. Ali bin Abi Thalib, belum lagi dengan figur Rasulullah SAW, apalagi saat kita akan menghadap Allah. Mengapa demikian ?

Jujur saja kita katakan, semakin dekat datangnya lebaran, yang hanya selangkah lagi akan kita raih Hari Raya Idul Fitri itu, yaa esok hari..., bukannya kita menangis seperti Sy. Ali bin Abi Thalib sebagaimana tertera dalam riwayat di atas. Namun yang ada pada diri kita justru sebaliknya :

Hati kita terasa berbunga-bunga karena telah datang Hari raya Idul Fitri. Kita katakan, selamat datang Hari Kemenangan, selamat berjumpa Hari Lebaran, selamat bertemu Hari Kegembiraan, dan seterusnya.

Hal itu karena kita sudah merasa mampu berpuasa dengan benar, tentunya menurut standar kwalitas puasa kita. Kita sudah merasa banyak beramal shaleh dengan beribadah di bulan Ramadlan ini, sehingga kita sudah merasa mampu dalam mengumpulkan banyak amal kebaikan sebagai bekal menuju kampung akhirat.

Rasanya kita ini lebih mencintai dunia hingga lebih senang berbelanja demi memenuhi kebutuhan lebaran. Kita juga sudah merencanakan acara-acara happy bersama keluarga, handai taulan, karib kerabat, dan mengatur bagaimana caranya memeriahkan Hari Raya Idul Fitri dengan penuh keceriaan, dengan penuh kegembiraan, dengan penuh kemeriahan, semuanya dengan dalih sebagai ajang silaturrahim keluarga.

Hingga banyak di antara kita yang rela jauh-jauh mudik di saat jalanan sedang macet, rela menunggu antrian panjang, rela membeli tiket dengan harga melambung, bahkan terkadang rela melupakan keselamatan jiwa hanya untuk menikmati ritual tahunan berkumpul bersama keluarga di hari lebaran yang selalu kita tunggu-tunggu kedatangannya.

Segala macam jenis makanan kita siapkan, segala macam jenis minuman juga kita hidangkan, yang penting kita dapat merasakan kegembiraan di hari kemenangan itu, yaa tentunya menurut persepsi kita.

Kita tidak peduli, apakah selama bulan Ramadlan ini puasa kita sudah sempurna sesuai aturan main yang ditentukan oleh syariat. Kita tidak peduli apakah shalat kita di bulan Ramadlan ini sudah sesuai dengan rukun dan syaratnya. Kita tidak peduli apakah zakat kita sudah memenuhi kriteria yang diajarkan oleh agama. Atau bahkan kita tidak peduli apakah kita belum atau sudah melakukan kewajiban-kewajiban itu ?

Yang penting rasanya, saat gema tabuh bertalu, takbir berkumandang, suasana riang membahana, baju baru bertumpuk di depan mata, kue lebaran bertebaran di meja-meja, lontong ketupat sudah ada di tempat, maka kita pun sudah siap dan tak mau ketinggalan berada dalam kerumunan itu.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu Akbar, laa ilaaha illallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahilhamd.

Mudah-mudahan Allah mengampuni kita semuanya sekalipun dengan kwalitas keimanan kita yang pas-pasan bahkan cenderung kurang.

Minal A`dziin wal faiziin, kullu `aamin wa antum bikhair, selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawwal 1433 H / 2012 H, mohon maaf lahir dan batin. Semoga seluruh amal ibadah kita diterima dan seluruh dosa kita diampuni oleh Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.




sumber asli :

http://www.pejuangislam.com/main.php?prm=karya&var=detail&id=517

Rabu, 24 Juni 2015

SMS-AN DAN TELEPON-TELEPONAN SAMA PACAR DAPAT MENGGUGURKAN PAHALA PUASA.

SMS-AN DAN TELEPON-TELEPONAN SAMA PACAR DAPAT MENGGUGURKAN PAHALA PUASA.

Penulis : ade setiawan

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    Berhubung kita memasuki bulan ramadhan. Hati saya tergugah untuk menulis artikel sederhana ini, tentunya tulisan ini bukan bermaksud untuk menggurui para pembaca, tetapi untuk senantiasa menjaga ibadah puasa kita, agar puasa kita tidak hanya dapat haus dan lapar saja. Karena banyak sekali orang yang berpuasa tetapi tidak sholat, tidak menjaga lisan, tetap menggunjing dll. Sehingga puasanya tidak dapat pahala.  
     Dan salah satu yang dapat menggugurkan pahala puasa yaitu bertelepon-teleponan dengan pacar, sms-an dengan pacar pada waktu puasa. Kenapa bisa demikian ? . Karena itu termaksud kategori  zina walaupun itu termaksud zina kecil. Maka dengan itu  pada saat puasa aktivitas bertelepon-teleponan dengan pacar lebih baik dihentikan.  
Untuk lebih jelasnya bacalah hadits berikut:

"Dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi saw. Sabdanya : “Nasib anak Adam mengenai zina telah ditetapkan. Tidak mustahil dia pernah melakukannya. Dua mata, zinanya memandang. Dua telinga, zinanya mendengar. Lidah, zinanya berkata. Tangan, zinanya memegang. Kaki, zinanya melangkah. Hati, zinanya ingin dan rindu, sedangkan faraj (kemaluan) hanya mengikuti dan tidak mengikuti.” (Hadis Shahih Muslim No. 2282)"

     Jika kita melihat dari Hadis Shahih Muslim tersebut, sudah jelas  bahwa bertelepon-telepon dengan pacar termaksud zina telinga, zina mulut dan zina hati. Tentunya perbuatan zina kecil ini dapat menggugurkan pahala walaupun puasanya tidak batal.  “Menggugurkan pahala” bukan berarti “membatalkan puasa” , ini tentu konteks  yang berbeda.  Contoh kecil yang membatalkan puasa adalah makan,minum. Sedangkan yang menggugurkan pahala puasa adalah melakukan segala perbuatan yang tidak di ridhoi ALLAH. 
Wallahu’alam.. 
semoga tulisan ini bermanfaat untuk bekal puasa kita

Kesimpulan hadits diatas
Zina Mata = Memandang
Zina Telinga = Mendengar
Zina Lidah = Berkata
Zina Tangan = Memegang
Zina Kaki = Melangkah
Zina Hati = Ingin dan Rindu










Kamis, 04 Juni 2015

KONTROVERSIAL LAGU BRUNO MARS -IT WILL RAIN



Minta Perhatian!

Jika dengar lagu "It Will Rain" by Bruno Mars, JANGAN ikut nyanyi sekali. Ada sebaris lirik yang bisa jadi membawa kita ke arah MURTAD!
Seenak"nya jgn dengar langsung.
Ini lirik nya:
There's no religion that could save me
(tiada agama yang bisa selamatkan aku)
No matter how long my knees are on the floor
( berapa lama aku berlutut di lantai tak ada gunanya)
TIADA AGAMA?
Hati-hati! Allah MURKA, sebab kita terlena oleh lagu-lagu barat yang enak didengar. Tapi tak faham arti nya. Tolong sebarkan jika anda sayangkn Islam.
Ada 2 pilihan untuk anda.
1. Biarkan di dalam moment anda tanpa bermanfaat untuk org lain.
2. Berlomba lombalah dalam kebaikan
*Buat semua yang punya FB. Tolong block fb yang bernama "Rudy Yohanes Hutagalung" dan "Jasmine Always-Happy III (dajal)". Wanita Iblis yang terkutuk telah menghina NABI MUHAMMAD SAW mengatangatai Nabi Muhammad SAW!
Bagi yang punya HP tolong sebarkan teks ini! Kalau yang tidak menyebarkan, sama saja membiarkan orang n kafir menghina Nabi kita dan Agama kita!
‪#‎LindungAgamaKita‬
‪#‎apa‬ susahnya sekedar copy paste ?

sumber asli :
dari status facebook teman



Minggu, 31 Mei 2015

MENTERI AGAMA RI MINTA MAAF

MENTERI AGAMA RI MINTA MAAF
Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin menyampaikan permohonan maaf terkait kontroversi yang timbul di masyarakat terkait qiroah Al-Qur'an menggunakan langgam Jawa.
Permohonaan maaf tersebut disampaikan Lukman saat menerima Delegasi sejumlah Ulama dan Tokoh perwakilan Ormas Islam di kantor Kementerian Agama Jakarta, Kamis (28/5).
PERWAKILAN ORMAS
Nampak hadir dalam pertemuan tersebut, KH. Syeikh Misbahul Anam Attijani (Ketua Dewan Syuro DPP FPI), KH. Ahmad Shobri Lubis (Ketua Umum DPP FPI), Ust. Slamet Ma’arif (Ketua Bidang Hisbah DPP FPI), KH. Ir. Muhammad Al-Khaththath (Sekjen FUI), Ust. Abu Jibril (Majelis Mujahidin), DR. Ahmad Annuri (DDII), dan Ust. Budi Darmawan (HTI), serta beberapa utusan Ormas lainnya.
Kehadiran para Ulama dan Tokoh tersebut adalah untuk mempersoalkan kebijakan Menag yang membolehkan bacaan Al-Qur'an dengan langgam Jawa pada peringatan Isra Mi'raj di Istana negara beberapa waktu lalu.
Ketum FPI KH. Ahmad Sobri Lubis menyampaikan sambutan pembuka dari Delegasi. Beliau dengan santun dan wibawa menjelaskan maksud kedatangan para Ulama dan Tokoh dari berbagai Ormas Islam.
KH. Ir. Muhammad Al-Khaththath dalam forum tersebut menyatakan ketidak-setujuannya Al-Qur'an yang dilantunkan dengan menggunakan langgam Jawa.
“Saya sebagai orang Jawa saja merasa tidak enak mendengar Al-Quran dengan langgam Jawa, apalagi yang bukan orang Jawa,” ujarnya.
Al-Khaththath menilai, qiraat dengan langgam Jawa sudah kebablasan. Parahnya lagi, kini sudah ada tilawah dengan seriosa. Ini lebih berbahaya lagi.
Sementara itu, KH. Syeikh Misbahul Anam Attjijani (Ketua Majelis Syuro DPP FPI) mendesak Menag untuk tidak meneruskan tradisi berupa qiraat Al-Qur'an dengan langgam Jawa tersebut. Ia juga meminta Menag untuk bertobat kepada Allah SWT.
“Jangan ulangi lagi, ini adalah pelecehan agama Islam, taubatlah kepada Allah SWT, dan mintalah maaf kepada umat Islam atas kekeliruan ini,” tandas Kyai Misbah.
Sementara Ust. Abu Jibril dari MMI memperingatkan Menag tentang Bahaya Bid'ah yang sesat lagi menyesatkan sambil mengutip sejumlah ayat dan hadits.
MENAG RI BERKELIT
Menag mengakui bahwa Baca Al-Qur'an dengan langgam Jawa bukan otoritasnya, sehingga ke depan ia akan serahkan kepada mayoritas Ulama untuk memutuskannya, apakah Langgam Jawa tersebut harus dihentikan atau boleh dilanjutkan. Menag berjanji akan ikut putusan Mayoritas Ulama.
Para perwakilan Ormas protes keras, mestinya sebelum diangkat ke ruang publik, harus diputuskan dulu oleh mayoritas Ulama, bukan sebaliknya. Dan jangan juga Menag yang buat masalah, kini cuci tangan menyerahkan kepada para Ulama untuk "memperdebatkannya" atas nama penyelesaian masalah.
Soal permintaan taubat, Lukman berkelit bahwa hal itu sudah dilakukan setiap hari dengan membaca Istighfar setiap selesai sholat.
Soal pelecehan, Lukman berkelit lagi dengan dalih bahwasanya Kementerian Agama memperdengarkan pembacaan Al-Quran dengan langgam Jawa ke masyarakat untuk memperkenalkan kekhasan Islam Nusantara, sama sekali tidak memiliki niat untuk melecehkan Al-Quran atau pun memecah persatuan umat.
Soal penampilan di TV, lagi-lagi Lukman berkelit bahwa ia berani menampilkannya di TV karena ini hanya masalah Khilafiyah. Lukman mengaku bahwa sebelumnya sudah konsultasi dengan sejumlah Ulama. Dan dia pun mengakui bahwa para Ulama yang dirujuknya berselisih pendapat alias Khilafiyah. Bahkan dia mengaku bahwa Baca Al-Qur'an dengan langgam Jawa pernah juga diperdengarkan kepada Qori-Qori Internasional, mereka tidak mengatakan tidak sah, tapi menyebutnya "aneh".
Para perwakilan Ormas protes keras lagi, justru karena masalah Khilafiyah yang diperselisihkan Ulama, dan ditambah lagi merupakan sesuatu yang tidak lazim, bahkan aneh, mestinya lebih tidak boleh dipertontonkan secara demonstratif di Istana Negara melalui siaran TV secara nasional ?! Dan walau pun Menag punya niat baik, tapi harus diserta amal yang baik. Faktanya, perilaku Menag telah menyulut Fitnah dan Perpecahan umat Islam.
BAHAYA LANGGAM JAWA
DR. Ahmad An-Nuri dari DDII berpesan, hendaknya Menteri Agama jangan menambah-nambah lagi persoalan umat yang sudah pelik. Karena itu meminta agar qiraat dengan langgam Jawa dihentikan.
DR.Ahmad Annuri adalah seorang Ahli Langgam Al-Qur'an, dan Desertasi Doktornya adalah tentang Langgam Bacaan Al-Qur'an. Bahkan juga seorang yang sangat fasih dengan Langgam Jawa yang biasa dibawakan dalam acara pertunjukkan Pewayangan dan Pedalangan, karena beliau pernah sekolah Pedalangan.
DR. An-Nuri dalam pertemuan tersebut mengemukakan beberapa catatan penting dan menarik, antara lain :
Pertama, sangat prihatin dan menyesalkan bahwa Bacaan Al-Qur'an dengan langgam Jawa dilakukan di Istana Negara, sehingga mengesankan bahwa itu halal dilakukan dimana saja.
Kedua. Tilawah langgam Jawa tersebut lebih besar mudharatnya karena tidak mencapai tujuan dibacakannya Al-Qur'an yakni agar pendengar mendapatkan keberkahan dan kekhusyuan.
Beliau pun menyampaikan data bahwa pembacaan tilawah langgam Jawa ini pernah dilakukan di rumah dinas Menteri SDA, dan tatkala Al-Fatihah dibaca, baru baca "Bismillaah" saja para pendengar langsung ketawa semua. Bukan kekhusyuaan yang diperoleh tapi ketawa semua dan ini "pelecehan".
Kalau kemarin di Istana terkesan khusyu itu karena acara kenegaraan, bukan karena bacaan Al-Qur'annya. Buktinya, setelah dari Istana, hari Rabu berikutnya Yasser Arafat baca lagi Al-Qur'an dengan langgam Jawa di tempat lain dan memunculkan perdebatan sengit, bukan kekhusyuan.
Ketiga. Salah seorang guru dalang dari Dr. An-Nuri juga memprotes bacaan Yasser Arafat karena merusak pakem pedalangan dan merusak Not Nada Dalang. Dan Not Dalang tidak bisa dikombinasikan dengan Langgam Al-Qur'an, sehingga jika iramanya ikut Tajwid maka Not Dalang rusak, sebaliknya jika ikut Not Dalang maka Tajwid yang rusak.
Keempat, andai pun Baca Al-Qur'an dengan langgam Jawa tidak merusak tajwid, tapi jika dibaca dalam Sholat akan merusak kekhusyuan Sholat.
DR. An-Nuri yang juga Qori tapi sekaligus pernah sekolah pedalangan, dalam pertemuan kemarin mencontohkan bahwa bacaaan "Amiiin" makmum itu tergantung bacaan "Waladhdhoolliiiin" dari Imam. Beliau pun membaca Al-Fatihah dari "Ghairil Maghdhuubi 'Alaiihim Waladhdhoolliiiin" dengan iramaa Syaikh As-Sudais yang secara spontan diikuti "Aamiiinn" oleh para hadirin, termasuk Menag.
Lalu DR. An-Nuri membacanya dengan bacaan langgam pedalangan yang tidak diikuti "Amien" oleh hadirin karena aneh dan kacau, Menag pun melongo. DR. An-Nuri langsung minta maaf karena beliau terpaksa melanggamkan dengan langgam Jawa hanya untuk menunjukkan mudharatnya, bagaimana Makmum akan bingung membaca "Amien" nya, apalagi yang bukan Jawa.
Kelima, menanggapi Menag yang menyatakan bahwa Yasir Arafat telah mentash-hih bacaan langgam Jawa kepada Rektor IIQ, Prof.DR. Ahsin Sakho, maka DR. An-Nuri menerangkan bahwa beliau punya hubungan baik dan sangat dekat dengan DR. Ahsin Sakho, bahkan buku beliau tentang Murottal diberi kata pengantar oleh Dr. Ahsin Sakho yang Ahli Qiroo-aat Tujuh. Namun DR. Ahsiin Sakho bukan Ahli Langgam Al-Qur'an, sehingga tidak bisa dijadikan rujukan. Yang bisa dijadikan rujukann dalam irama/nagham adalah Mantan Menag Prof DR. Said Agil Al-Munawwar, KH. Mu'ammar ZA dan DR. Muhsin Salim.
MENGAKU SALAH DAN MINTA MAAF
Setelah dinasihati dan diperingatkan oleh para Ulama dan Tokoh yang hadir dalam pertemuan dengan dalil-dalil Al-Qur'an dan As-Sunnah, akhirnya Menag mau mengakui kesalahan dan kekeliruannya.
"Ini mungkn ijtihad saya salah ketika membawa ini ke ruang publik. Ini semata karena ketidak-tahuan saya. Sekarang kenyataan saya baru mengerti, Tentu saya pertama meminta maaf " ujar Lukman.
Selanjutnya, Menag terus mengulang-ulang permohonan maafnya atas sikapnya yang telah menimbulkan keresahan dan perpecahan di tengah masyarakat. Dan berjanji untuk tidak mengulanginya.
DPP FPI di akhir pertemuan dengan Menag RI kemarin menyerahkan Bundel dengan judul AHLUS SUNNAH vs AHLUL FITNAH yang berisi semua artikel Imam besar FPI Habib Muhammad Rizieq Syihab di Web dan Akunnya, sekaligus dilengkapi juga dengan LAMPIRAN DALIL yang memuat kutipan-kutipan dari berbagai kitab tentang Bacaan Al-Qur'an dengan Langgam selain Arab. Berikut arsipnya :
Alhamdulillahi Robbil 'Aalamiin ...